Showing posts with label Filsafat. Show all posts
Showing posts with label Filsafat. Show all posts

Pengertian filsafat islam

pengertian filsafat islam, agaknay tidak aneh jika masih ada orang samapi hari ini meletakkan filsafat islam pada altar skeptik. sikap ini jelas merupakan warisan, terutama dari pandangan para orientalis abad ke-19, seperti Tennemann dan E. renan. menurut mereka kendatipun orang-orang islam melakukan kegiatan mempelajari filsafat, namun mereka tidak akan mungkin melahirkan filsafat sendiri. alsan-alasan pandangan mereka ini dapat dirangkum sebagai berikut:
  1. adanya kitab suci Al-Quran yang menegasikan kebebasann atau kemerdekaan berfikir
  2. karakter bangsa Arab yang tidak mungkin berfilsafat
  3. bangsa Arab adalah ras semit (al-Samy), termasuk ras rendah bila dibandingkan de3ngan bangsa Yunani rasria(al-Ary). ras semit mempunyai daya nalar yang lemah dan tidak mampu berfilsafat, yang hanay dimiliki oleh Ras Aria.
alasan-alasan yang dikemukakan di atas tidak mempunyai dasar sama sekali. bahkan mengandung kadar kezaliman. seperti kitab suci Al-Quran dituding menegasikan kebebasan berfikir, padahal faktualnya t idak sedikit ayat-ayat al-Quran yang menganjurkan dan mendorong pemeluknya banyak berfikir dan melakukan pengamatan dan penelitian dalam pelbagai bidang serta mencela orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.

obyek filsafat 8

dalam ajaran agama wahyu, pengetahuan dapat diperoleh melalui wahyu. pengetahuan yang dibawa wahyu diyakini bersifat absolut dan mutlak kebenaranya. sedangkan pengetahuan yang diperoleh melalui pancaindera dan akal bersifat realtif.
pembahasan aksiologi bersangkutan dengan hakikat nilai. dalam menentukan hakikat atau ukurtan baik dan buruk dibahas dalam filsafat etika atau akhlak. adalam menentukan hakikat atau ukuran benar dan salah dibahas dalam filsafat logika atau mantiq.

dalam menentukan hakikat atau ukuran indah dan tidaknya dibahas dalam filsafat estetika atau jamal.

Filsafat dan Obyeknya (7)

Sirajuddin Zar-Jika tidak ditemukan hasil sama, penemuan seperti itu tidak dapat direkomendasi oleh para saintis lain dan dipandang tidak pernah ada.
1. al-Wujud atau ontologi;
Ada pun objek bahasan filsafat terbagi menjadi tiga bahasan pokok:
2. aI-Ma’rifat atau epistemologi;
3. al-Qayyirn atau aksiologi.
Pembahasan ontologi mencakup hakikat segala yang ada (al-manjudat) . Dalam dunia filsafat “yang mungkin ada” termasuk dalam pengertian “yang ada.” Dengan kata lain, ‘yang mungkin ada” merupakan salah satu jenis “yang ada.” Dan ia tidak dapat dimasukkan ke dalam kelompok “yang tiada,” dalam arti tidak ada atau dalam bahasa lain “mustahil ada.”
Pada umumnya bahasan “yang ada” (al-manjudad) terbagi menjadi dua bidang, yakni fisika dan metafisika. Bidang fisika mencakup tentang manusia, alam semesta, dan segala sesuatu yang terkandung di dalamnya, balk benda hidup maupun benda mati. Sementara bidang metafisika membahas ketuhanan dan masalah yang imateri.
Pembahasan epistemologi bersangkutan dengan hakikat pengetahuan dan cara bagaimana atau dengan sarana apa pengetahuan dapat diperoleh. Pembicaraan tentang hakikat pengetahuan ini ada dua teori. Teori pertama yang disebut dengan realisme berpandangan bahwa pengetahuan adalah gambar atau kopi yang sebenarnya dan apa yang ada dalam alam nyata. Gambaran atau pengetahuan yang ada dalam akal adalah kopi dan yang ash yang terdapat di luar akal. Jadi, pengetahuan menurut teori ini sesuai dengan kenyataan.
Sementara itu, teori kedua yang disebut dengan idealisme berpandangan bahwa pengetahuan adalah gambaran menurut pendapat atau penghihatan orang yang mengetahui. Berbeda dengan reahisme, pengetahuan menurut teori ideahisme ini berarti tidak menggambarkan kebenaran yang sebenarnya karena, menurutnya, pengetahuan yang sesuai dengan kenyataan adalah mustahil.
Pembicaraan tentang metode-metode untuk memperoleh pengetahuan ada dua teoni pula. Teori pertama yang disebut dengan empirisme berpandangan bahwa pengetahuan diperoleh dengan perantaraan pancaindra. Alat utama inilah yang memperoleh kesankesan dan apa yang ada di alam nyata. Kesan-kesan tersebut berkumpul dalarn din manusia yang kemudian menyusun, dan mengaturnya menjadi pengetahuan. Sementara itu, teoni kedua yang disebut dengan rasionahisme berpandangan bahwa pengetahuan diperoleh dengan perantaraan akal. Memang untuk memperoleh data-data dan alam nyata dibutuhkan pancaindra, tetapi untuk menghubung-hubungkan satu data dengan data Iainnya atau untuk menerjemahkan satu kejadian dengan kejadian Iainnya yang terjadi di alam nyata ini dibutuhkan sekahi akal. Andaikan bersandar pada pancaindra semata, nianusia tidak akan mampu menafsirkan proses alamiah yang terjadi di jagad raya in Jadi, akahlah yang menyusun konsep-konsep rasional yang disebut dengan pengetahuan.

Filsafat dan Obyeknya (6)

Sirajuddin Zar-Dengan kata lain, dalam berpikir filsafat tidak boleh ada satu sisi pun yang tertinggal, tetapi harus tercakup di dalamnya secara keseluruhan. Begitu juga dengan ciri filsaFat berikutnya, iaiah mendasar atau radikal. Teiah disebutkan bahwa ilmu atau sains hanya mampu memberi penjelasan sebatas pengalaman atau kenyataan empiris, sedangkan berpikir Filsafat lebih jauh dan itu, yakni akan sampai ke dasar segala dasar. Dengan demikian, tidak ada saw tapal batas pun atau suatu yang tabu bagi kegiatan berpikir filsafat.
Demikianlah bcberapa karakteristik berpikir filsafat. Akan tetapi, Jujun S. Suriasumantri menambahkan satu karakteristik lagi, yakni spekulatif. Penambahan mi dapat diterima, karena spekulatif adalah dasar ilmu pengetahuan. Agaknya ciri inilah yang menjadikan jurang pernisah antara pengetahuan filsafat dan pengetahuan sains. Spekulatif sebagai dasar bagi sains (ilmu) hanya bersifat sementara, yang kemudian harus dibuktikan secara empiris dengan menggunakan roetode ilmu atau sains.
Kendatipun filsafat menjadikan spekulatif sebagai saiah satu cirinya, namun bukan berarti ia berpikir hanya menebak-nebak atau menerka-nerka tanpa aturan. Akan tetapi, dalam analisis dan pembuktian filsafat akan dapat diketahui dan ditetapkan mana spekulatif yang benar dan logis dan mana pula spekulatif yang salah atau tidak logis. Hal ini berarti, kebenaran berpikir filsafat hanya sepanjang kerangka filosofis dan belum tentu benar dalam kenyataan secara empiris. Sementara kebenaran hasil ilmu atau sains dikatakan konsensus dan seluruh ilmuwan yang bersangkutan. Hal mi disebabkan hasil kajian ilmu atau sains haius dapat dikaji ulang atau dipeniksa ulang oleh yang bersangkutan atau saintis lain dengan hasil yang sama.

Filsafat dan Obyeknya (5)

Sirajuddin Zar-Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa berpikir filsafat mengandung ciri-ciri rasional, sistematis, universal atau menyeluruh, dan mendasar atau radikal. Berpikir rasional mutlak diperlukan dalam berfilsalat. Rasional mengandung arti bahwa bagian-bagian pemikiran tersebut berhubungan antara satu dan lainnya secara logis. Kalau diibaratkan sebagai satu bagan, bagan tersebut adalah bagan yang berisi kesimpulan yang adiperoleh dan premise-premise Sistematis juga termasuk ciri-ciri berpikir filsafat. Kegiatan kefilsafatan bukanlah berpikir secara kebetulan. .Akan tetapi, ia harus berdasarkan aturan-aturan penalaran atau logika. Pada dasarnya berpikir filsafat ialah bcrusaha untuk menyusun suatu sistem pengetahuan yang rasional dalam rangka memahami segala sesuatu termasuk din kita sendiri. Menycluruh atau universal termasuk juga ciri atau karakteristik berpikir filsafat. Suatu sistem lilsafat harus bersifat komprehensif atau menyclurub. Oleh karena itu, tidak ada satu pun yang berada di luar angkauannya. Seorang filosof dalam mencani kebenaran atau hakikat segala sesuatu, kebenaran atau hakikat mi harus dinyatakannya dalam hentuk umum atau komprehensif.

Filsafat dan Obyeknya (4)

OLeh: Sirajuddin Zar
dari uraian sbelumnya dapat dilihat bahwa berfikir filsafat mengandung ciri-ciri rasional, sistematis, universal atau menyeluruh, dan mendasar atau radikal. berfikir rasional mutlak diperlukan dalam berfilsafat. Rasional mengandung arti bahwa bagina-bagian pemikiran tersebut berhubungan antara satu dan lainnya secara logis. Kalau didibaratkan sebagai satu bagan, bagan tersebut adalah bagan yangberisi kesimpulan yang diperoleh dari premise-premise. Sistematis juga termasuk ciri-ciri berfilsafat. kegiaan kefilsafatan bukanlah berfikir secara kebetulan. akan, tetapi, ia harus berdasarkan aturan-aturan penalaran atau logika. pada dasarnya berfikir filsafat ialah berusaha untuk menyusun suatu sistem pengetahuan yang rasional dalam rangka memahami segala sesutau termasuk diri kita sendiri. menyeluruh atau universal termasuk juga ciri atau karakteristik berfikir filsafat. suatu sistem filsafat harus bersifat komprehensif atau menyeluruh. oleh karena itu, tidak ada satu pun yang berada di luar jangkauannya. seorang filosof dalam mencari kebenaran atau hakikat segala sesuatu, kebenaran atau hakekat ini harus dinayatakannya dalam bentuk umum atau komprehensif.( Bersambung)

Filsafat dan Obyeknya 3

Oleh: Sirajuddin Zar
kemudian, orang Arab memindahkan kata yunani philosphia ke dalam bahasa Arab menjadi falsafa. hal ini sesuai dengan tabiat susunan kata-kata Arab dengan pola fa'lal, fa'lalah danfi'lal. karena itu, kata benda dari kata kerja flasafa seharusnya falsafah dan filsafat. dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata ini terpakai dengansebutan filsafat.
para penulis sejara filsafat berasumsi bahwa orang yang pertama menggunakan kata filsafat adalah Phythagoras(w.497SM). kata ini digunakannya sebagai reaksi terhadap orang yang menamakan dirinya ahli pengetahuan. manusia, menurutnya, tidak akan mampu mencapai pengetahuan secara keseluruhan walaupun akan menghabiskan semuaumurnya. oleh sbeba itu, yang pantas bagimanusia ialah pecinta pengetahuan (filosof), sehingga terkenal ungkapan,"saya tidaklah ahli pengetahuan, karena ahli pengetahuan itu khusus bagi Tuhan saja. saya adalah filosof, yakni pecinta ilmu pengetahuan."
akan tetapi, kata filsafat populer pemakaiannyasejak masa sekolah sokrates dan Plato. namun yang pasti, kata filsafat ini telah ada sejak masa filosof Yunani.
dalam buku-buku atau referensi ditemukan pelbagai definisi filsafat. keragaman definisi ini menandakan luasnya lingkungan bahsan filsafat. namun, pada prinsipnya dalam keragaman tersebut terdapat keseragaman tujuan. oleh karena itu, secar simpel dapat dikatakan, filsafat adalah hasil proses berfikir rasional dalam mencari hakikat sesuatu secara sistematis, menyeluruh (universal), dan mendasar (radikal). (bersabung)

Filsafat dan Obyeknya 2

Oleh: Sirajuddin Zar

Pengetahuan pertama diperoleh manusia melalui wahyu, sedangkan pengetahuan kedua diperoleh manusia melalui indra dan akal. Pengetahuan dalam bentuk kedua ini ada yang disebut dengan pengetahuan indra, pengetahuan ilmu dan pengetahuan filasafat. Pengetahuan indra yaitu pengetahuan yang diperoleh berdasarkan pengalaman seharihari, seprti api panas, air membahsahi, dan lain-lain. Sementara itu, pengetahuan ilmu adalah pengetahuan yang diperoleh melalui penyelidikan atau penelitian dengan menggunakan pendekatan ilmiah, seprti meneliti mengapa api panas dan unsure-unsur yang terdapat dalam api. Sementara itu, pengetahuan filsafat merupakan hasil proses berfikir dalam mencari hakekat sesuatu secara sistematis, menyeluruh,dan mendasar, seprti pengetahuan tentang api, apa hakekat api, dan darimana asal api. Jadi, pengetahuan filasafat adalah mencari hakekat sesuatu samapi ke dasar segala dasar atau sedalam-dalamnya. Cirri dasar darisegala dasar inilah yang membedakannya dengan ilmu atau sains. Hal ini disebutkan ilmu membatasi dirinya dengan pengalaman, sedangkan filsafat tidak demikian, bahkan filsafat menyelidiki sesuatu tanpa batas samapi ke akar-akarnya.

Filsafat adalah kata manjemuk yang berasal dari bahasa Yunani, yakni philosophia dan philosophos, philo, berarti cinta, sedangkan Sophia atau shopos, berarti pengetahuan atau kebijakan. Jaid, filsafat secara sederhana berarti cinta pengetahuan atau kebijakan. Pengertian cinta yang dimaksudkan di sini adalah dalam arti yang selaus-luasnya, yaitu ingin dan denganrasa keinginan itulahia berusaha mencapai atau mendalami hal yang diinginkan. Demikian juga yang dimaksudkan dengan pengetahuan, yaitu tahudengan mendalam amapi ke akar-akarnya atau sampai ke dasar segala dasar.(bersambung)

Filsafat dan Obyeknya 1

By: Sirajuddin Zar
pembicaraan tentang filsafat Islam tidak bisa terlepas dari pembicaaan filsafat secara umum. berfikir filsafat merupakan hasil usaha manusia yang berkesinambungan diseluruh jagad raya ini. akan tetapi, berfikir filsafat dalam arti berfikir bebas dan mendalam atau radikal yang tidak dipengaruhi oleh dogmatis dan tradisi disponsori oleh filosof-filosof Yunani. oleh karena itu, sebelum kita memperkenalkan filsafat Islam secara khusus, ada baiknya kita perkenalkan terlebih dahulu filsafat secara umum.
akal merupakan salah satu anugerah Allah Swt yang paling istimewa bagi manusia. sudah sifat bagi akal manusia yang selalu ingin tahu terhadap segal sesuatu termasuk dirinya sediri. pengetahuan yang dimiliki manusia bukan dibawa sejak lahir karena manusia ketika dilahirkan belum mengetahui apa-apa.
ada dua bentuk pengetahuan, yaitu pengetahuan yang bukan berdasarkan hasil usaha aktif manusia dan pengetahuan yang berdasarkan hasil usaha aktif manusia.(bersambung)

Ruang-Waktu Dan Kesadaran Sebagai Suatu Kontinuum

Konsepsi ruang dan waktu merupakan abstraksi
atas alam yang dapat di indera oleh manusia. Jadi,
yang berperanan disini adalah kognisi dan persepsi
manusia. Maka ruang dan waktu sebenarnya
bersifat energetis dan psikologis kalau saja kita mau
mengaitkannya dengan diri kita sendiri. Sebagai
sesuatu yang energetis, maka ruang-waktu
membangun pengertian gerakan energi persatuan
waktu, atau munculnya suatu sumber energi yang
bergetar sebagai gelombang yang merambat dan
menjalar persatuan waktu. Dengan kata lain,
eksistensi ruang waktu berkaitan dengan ruang yang
terbentuk akibat adanya atau munculnya secara
mandiri suatu sumber energi, suatu white hole yang
menjalarkan energi setiap saat atau dalam fisika
dikatakan sebagai frekuensi.

Munculnya white hole sebagai eksistensi energi yang
menjalar membangun pengertian ruang dan waktu
hanya dimungkinkan ketika manusia menangkap
impuls energetis itu sebagai suatu cahaya yang
dikognisi dan dipersepsi oleh inderawinya unutk
kemudian diolah otaknya. Maka jadilah sesuatu itu
disimpulkan "ada" oleh kita, termasuk pengertian
ruang dan waktu. Sehingga saya simpulkan bahwa
ruang-waktu sejatinya tidak cuma sekedar bersifat
fisik tetapi juga psikologis, bahkan realitas sejatinya
psikologis. Kita memang hidup di dalam The
Matrix.

3.1 Konsep Ruang-Waktu Materialistik

Kesadaran atas ruang dan waktu sebenarnya sudah
dikenal sejak dahulu. Sejak zaman awal peradaban
dimulai, manusia secara naluriah mengenali
terjadinya pergantian waktu seperti siang dan
malam, kapan waktu bercocok tanam dan
memanen, dan berbagai aktivitas bergantung waktu
lainnya. Namun, secara konseptual dari filsafat
Yunani-lah manusia mulai membuat abstraksi
bahwa ruang dan waktu merupakan sesuatu yang
melekat kepada makhluk khususnya manusia
[133]
.
Kemudian, Isaac Newton lebih khusus lagi
memformulasikan konsepsi ruang dan waktu
sebagai bagian dari hukum-hukum alam dan fisis
[115]
. Namun, beliau mengatakan bahwa ruang
terpisah dengan waktu.

Konsep ruang dan waktu yang diperkenalkan oleh
Isaac Newton disebut ruang dan waktu absolut.
Dalam konsep Newton ruang dan waktu absolut
mengacu kepada suatu kerangka referensial yang
tetap, sehingga dimana pun manusia yang berperan
sebagai pengamat berada waktu bersifat tetap.
Dalam arti bahwa kalau jarum jam di tangan saya
berdetik satu kali, maka jam tangan Anda yang saat
ini ada di Jayapura juga akan berdetik satu kali juga.
Konsep waktu absolut ini menyebabkan ruang bisa
dipisahkan dengan waktu sebagai suatu dimensi
tersendiri.

Konsep ruang dan waktu absolut kemudian di
rombak total oleh Albert Einstein yang menyatakan
bahwa waktu bersifat relatif tergantung kepada
posisi pengamat dan yang diamati. Dengan konsep
ini maka ruang dan waktu tidak bisa dipisahkan
tetapi melekat menjadi kesatupaduan yang disebut
kontinuum ruang-waktu. Konsep relativitas Albert
Einstein akhirnya merombak hukum-hukum fisika
Newtonian. Sampai saat ini, konsepsi kontinuum
ruang-waktu merupakan konsepsi yang dipakai
dalam perhitungan-perhitungan fisis dengan fisika
modern2
.

Semua makhluk ibaratnya ditempatkan di dalam
suatu wadah dengan dinding ruang-waktu ciptaan.

2
Kita mengenal saat ini konsep fisika klasik yang
berdasarkan hukum-hukum Newton yang deterministik
dengan asumsi waktu absolut dan fisika modern yang
menggunakan konsep waktu relatif Einstein. Dalam
penerapan di dunia atom-sub-atomis kondisi indeterministik
terjadi dimana hukum-hukum Newton tidak berlaku .
Namun yang berkalu adalah teori kuantum.
Didalam wadah itu, semua makhluk mengalami
suatu proses adalah suatu hal yang tidak bisa
dipungkiri. Lantas kenapa harus ada ruang-waktu?
Sebenarnya ruang-waktu merupakan sunnatullah
Allah yang paling fundamental karena
merepresentasikan al-Qudrah (Kekuasaan-Nya) yang
meliputi segala sesuatu (QS 41:54). Konsep Al
Qur'an meliputi segala sesuatu identik dengan
konsepsi Albert Einstein bahwa ruang-waktu
merupakan suatu kontinuum dimensional yang
tidak dapat dipisahkan. Meskipun, tidak tepat benar
karena konsepsi Einstein pada akhirnya akan
merujuk pada alam fisik saja.

3.2 Tuhan Ada Dimana?

Secara fisik, apa yang kita sebut sebagai "ruang"
adalah suatu acuan bentuk (panjang, tinggi, dan
lebar) yang membatasi gerak sedangkan "waktu"
menyatakan acuan adanya suatu proses
perkembangan, pertumbuhan, ekspansi atau
pergerakan. Keduanya kemudian disebut
kontinuum ruang-waktu dan saat ini
mendefinisikan alam semesta sebagai ruang dimensi
4. Lantas, kenapa harus ada ruang-waktu bila Allah
mampu menciptakan segala sesuatu? Pertanyaaan
demikian, dalam formatnya yang lain pernah
terlontar dari mulut seorang ahli fisika dan
matematika teoritis yaitu Prof. Paul Davies
[82]
.
Menurut Prof. Paul Davies :

"Tuhan tidak dapat menjadi yang perkasa jika Dia sendiri
tunduk kepada hukum-hukum fisika mengenai waktu.
Jika Tuhan tidak bisa menciptakan waktu karena waktu
itu sendiri melahirkan dirinya sendiri, tentunya Dia juga
tidak pernah menjadi pencipta alam semesta. Kedua
masalah tersebut saling bergantung."

Pendapat Prof. Paul Davies diatas khas
kecenderungan spekulatif ateistis-materialistis
karena (lagi-lagi) mengibaratkan Tuhan dalam
wujud yang fisikal seperti makhluk sehingga
diperlukan konsep waktu, padahal ruang-waktu
adalah representasi maujud-Nya sebagai wadah
eksistensi makhluk, bukan wadah untuk Tuhan.
Tuhan sendiri tidak bergantung pada pengertian-
pengertian fisikal temporal maupun spasial (ruang
dan waktu) yang menjadi atribut makhluk karena
Kemahakuasaan-Nya.

Dalam tinjauan yang lebih arif, sebenarnya atribut
ruang-waktu yang menjadi wadah eksistensi
makhluk diperlukan sebagai suatu anugerah untuk
pembelajaran, dalam arti untuk memahami dirinya
dan hubungannya dengan Penciptanya. Jadi
berhubungan dengan kesadaran dan kemampuan
manusia untuk menyimpan dan mengolah noise,
data, informasi dan pengetahuan yang lebih nyata,
real terbatas, dan tentu saja bisa dibuat model
maupun bendanya yang lebih bermanfaat bagi
semua makhluk bernama manusia misalnya
membuat handphone dari gelombang
elektromagnetik dan prinsip dasar komunikasi data
yang dulu mungkin hanya disebut sebagai suatu
"rumusan metaforik" misalnya "Malak" alias
Malaikat. Jelaslah masalah utama manusia
sebenarnya berhubungan erat dengan komunikasi
dan bahasanya yang harus selalu diaktualisasikan di
setiap zaman supaya orang tidak berlama-lama
terjebak di masa lalu maupun berlama-lama terjebak
di masa depan.

Pendapat Paul Davies tersebut mendapat tentangan
dari teolog-fisikawan Protestan Dr. Luco van Den
Brom yang menuduhnya lebih cenderung percaya
kepada adanya suatu model fisis tertentu yang
mengatur alam semesta seperti adanya otak super
alamiah ketimbang menalar dengan logis ilmiah
sebagai ahli fisika. Pada intinya, memang ada
perbedaaan sudut pandang karena Paul Davies
mempunyai kecenderungan yang sangat
materialistik, sehingga ia menafikan keberadaan
yang tidak dapat ditangkap inderawi dan akalnya.
Artinya, memang pertanyaan Paul Davies sejatinya
lahir dari seseorang yang tidak mempunyai
keimanan terhadap adanya Tuhan yang Lahir dan
Batin. Sehingga ia lebih mempercayai suatu
makhluk fisis yang luar biasa seperti "Otak Super"
misalnya. Namun anehnya, Paul Davies mengakui
sesuatu yang mempunyai sifat "mandiri" atau
"Berdiri Sendiri" yang tersirat dari perkataannya
"melahirkan dirinya sendiri", suatu sifat yang dalam
agama Islam sebenarnya merupakan salah satu sifat
"Allah Yang Berdiri Sendiri".

Perdebatan teologis semacam itu saat ini mewarnai
ilmu pengetahuan dan kosmologi di seluruh dunia,
khususnya dari kubu yang disebut secara dikotomis
"ateis dan agamawan". Hal demikian terjadi tidak di
Barat maupun tidak di Timur yang secara perlahan-
lahan sebagian mulai terkooptasi untuk mengikuti
pandangan barat dimana manusia menjadi pusat
dari alam semesta. Pandangan egosentris dari
filosofi materialis-ateis ini tidak heran menyebabkan
manusia terpenjara ke dalam akalnya sendiri dan
anehnya banyak dianut oleh kalangan yang
berkecimpung dalam dunia sains yang mengaku
bernalar logis. Padahal, jelas-jelas secara konseptual
salah karena menyerupakan makhluk dengan Tuhan
seolah-olah mengira sebuah lukisan Pablo Picasso
sama persis dengan Pablo Picasso yang manusia.
Padahal lukisannya hanyalah refleksi dari pikiran
dan citarasa Pablo Picasso saja yang bersifat abstrak
sebagai suatu gema dari pengalamannya atas
kehidupan untuk kemudian dilukiskan di atas
kanvas terbatas menjadi ekspresi terbatas dan tidak
bebas. Tentunya semua itu sesuai dengan seleranya
sebagai Si Pelukis!

Alam Semesta Jamak - al-Aalamin

ruang-waktu. Saya tidak akan menguraikan lebih
jauh hubungan simbolis matematis ini.

Kontinuum ruang-waktu yang berbeda antara satu
langit-bumi dengan langit-bumi lainnya
menunjukkan adanya relativitas waktu yang selaras
dengan pengertian ayat-ayat al-Qur'an yang
menginformasikan dengan eksak kesetaraan
sehari=1000 tahun dan sehari=50.000 tahun (QS
32:5, QS 70:4), dan materinya sesuai dengan
karakteristik relativitas ruang-waktu di alam
tersebut, dalam arti boleh jadi menjadi kurang
materialistik dan bersifat immaterial dan lebih
energetis dibanding dunia kita ini. Bisakah alam-
alam lain ini dibuktikan secara ilmiah merupakan
suatu pertanyaan yang sulit dijawab. Mengingat,
sampai saat ini kosmologi alam semesta fisik
dimodelkan berdasarkan kerangka intelektual
manusia yang memiliki keterbatasan (dalam rujukan
kontinuum ruang-waktu tanpa kesadaran).

Sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya kita
mencoba meninjau berbagai pandangan mengenai
alam atau ruang-waktu lain ini dari sudut pandang
spiritual atau batiniah Islam yang subyektif realistis
menurut pelakunya dan sudut pandang dunia
kuantum yang mewakili sains modern namun
mempunyai kemiripan dengan pandangan spiritual.
Titik temu antara keduanya menjadi mungkin
mengingat dunia spiritual atau metafisika dengan
sains modern khususnya Teori Kuantum memiliki
kemiripan cara pandang. Dengan demikian, dalam
kerangka "Pengetahuan Makrifat" , titik temu dari
kedua pendekatan ini merupakan suatu contoh
dimana dunia spiritual memandu sains modern
untuk memaknai dunia non-fisik yang mulai
dirambahnya.

Sudut pandang yang tepat dalam membicarakan
aspek-aspek batiniah agama Islam saat ini terwakili
oleh kalangan sufi atau seringkali disebut sebagai
pandangan tasawuf. Sufisme atau secara formal
ilmu pengetahuan keislaman yang disebut tasawuf
memang sudah menjadi bagian dari perkembangan
agama Islam sejak awal-awal abad Hijriah
[9,10,42,62]
.
Bahkan dikatakan bahwa ruh agama Islam adalah
Tasawuf. Khususnya sejak peristiwa Isra dan Mi'raj
dialami oleh Nabi Muhammad SAW dan diketahui
melintasi banyak alam. Peristiwa ini diimani oleh
sebagian besar Umat Islam sebagai mukjizat
kenabian dan menjadi inspirasi perjalanan ruhani
yang dapat dicapai manusia. Peristiwa ini juga
menunjukkan Kosmos Islam sebenarnya dimana
aspek-aspek kesadaran sudah dimasukkan sebagai
suatu realitas yakni kesadaran - ruang -waktu.
Sedangkan sudut pandang dunia kuantum diwakili
oleh apa yang sudah menjadi landasan Teori
Kuantum yang digagas oleh ilmuwan-ilmuwan
fisika teoritis awal abad ke-20 seperti Max Planck,
Niels Bohr, Heisenberg, Paul Diract, Schrodinger,
Albert Einstein dan yang lainnya.

Alam Semesta Jamak - al-Aalamin

manusia (QS 16:8). Di dalam surat Fushshilat [41] :
12 Allah secara lebih tegas lagi menyebutkan
bahwa terdapat tujuh langit:

Maka Dia jadikan tujuh langit dalam waktu dua masa
dan Dia mewahyukan kepada tiap-tiap langit urusannya
(masing-masing).
Dan kami hiasi langit dengan bintang-bintang dengan
pemeliharaannya.
Demikianlah ketentuan Yang maha Perkasa lagi Maha
Mengetahui.

Juga pada surat At Thalaq [65] : 12 disebutkan
tujuh langit dan bumi:

Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu
pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu
mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala
sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar
meliputi segala sesuatu.

Tafsiran kedua ayat diatas di kutip dari Al Qur'an
dan Terjemah terbitan PT Sari Agung
[2]
, dan juga
makna yang senada ditemui pada Al Qur'an
terjemah Departemen Agama
[1]
.

Kemudian kalau kita teruskan dengan kalimat "Dia
mewahyukan kepada tiap-tiap langit urusannya (masing-
masing)" dengan aspek-aspek perubahan hukum-
hukum alam, maka antara satu tingkatan dengan
tingkatan alam lainnya mempunyai perbedaan
hukum-hukum alam. Secara simbolis, kalimat
tersebut menyiratkan bahwa kemungkinan hukum-
hukum tersebut berkaitan dengan hukum yang
berlaku di tingkatan maujud obyek bermassa
sampai maujud elementer yaitu Teori Relativitas
dan Teori Kuantum. Jadi, antara kedua alam
tersebut yaitu alam obyek dan kuantum sebenarnya
memiliki suatu pertautan, suatu perantara sehingga
suatu kontinuum alam semesta yang secara hirarkis
terdiri dari tujuh cakrawala langit dapat terpahami
secara utuh. Apakah perantara itu?

2.2 Peran Manusia Dalam Pemahaman Alam
Jamak

Para ilmuwan sudah bertahun-tahun mencari cara
bagaimana mengawinkan Teori Kuantum dan Teori
Relativitas misalnya dengan Teori Gravitasi
Kuantum, Grand Unified Theory, Theory Of Everything
dan sebagainya. Namun, upaya ini selalu gagal.
Bahkan dengan sedikit berduka, ilmuwan seperti
Stephen Hawking nampaknya masih mencari cara
bagaimana kedua teori yang selama ini secara
konseptual dianggap bertolak belakang itu dapat
saling dikaitkan. Dalam banyak segi, menurut
sementara ilmuwan, kalau saja kaitan antara Teori
Relativitas dan Teori Kuantum diketahui, maka
konsep Theory Of Everything dapat dirumuskan
dengan baik. Namun upaya ini tak pernah menemui
jalan.

Salah satu aspek yang terlupakan dalam pendekatan
teori fisika, seperti telah saya singgung dari awal,
adalah pengertian kontinuum ruang-waktu yang
minus manusia di dalamnya, karena selama ini
manusia menganggap dirinya sekedar pengamat.
Sedangkan, dalam banyak segi manusia sebenarnya
sekedar partisipan di alam semesta, namun ia justru
menjadi rujukan ketetapan di alam semesta;
meskipun demikian, manusia adalah aktor bukan
dalang, dan panggung sandiwara sekaligus kandangnya
adalah alam semesta. Jadi, layaknya kita ini memang
aktor-aktor grup Srimulat yang hidup dan
manggung untuk sementara di pentas sekaligus
menjadi rumah tinggal. Sehingga saya ajukan aspek
kesadaran diri sebagai suatu kontinuum yang lebih
utuh dalam memahami alam semesta. Hasilnya
adalah suatu hipotesa awal berdasarkan QS 41:12
diatas bahwa sejatinya, yang memungkinkan
pertautan hukum-hukum alam antara alam nyata
dan alam malakut; antara Teori Relativitas dan
Teori Kuantum adalah kesadaran seorang manusia
yang eksis sebagai suatu esensi yang lebih ruhaniah,
halus, dan energetis, yang mampu mencitarasakan
alam nyata dan alam tidak nyata, itulah QOLBU
MANUSIA (saya ringkas QM, secara umum bisa
juga dipahami sebagai ruh dengan berbagai
kualitasnya atau nafs dengan berbagai kualitasnya).
Inilah parameter kesadaran diri yang dapat
menautkan antara alam nyata dan yang gaib.
Sehingga QM merupakan suatu kontinuuum
dengan ruang-waktu. Karena sejatinya, di alam
kuantum atau sub-atomis kesadaran dari pelakulah
yang lebih berperan seperti sudah diduga oleh
ilmuwan kuantum sendiri ketika menguraikan
partikel paling elementer saat ini yaitu quark.

Secara simbolis matematis saya akan menuliskan
bahwa hubungan antara Teori Relativitas yang
mewakili alam makro dan nyata dengan Teori
Kuantum yang mewakili alam mikro adalah:

Teori Relativitas.QM = Teori Kuantum

Inilah hubungan langsung yang merumuskan alam
semesta sebagai kontinuum kesadaran diri (QM)-

Alam Semesta Jamak - al-Aalamin

Di dalam Al Qur'an Allah menyebutkan penciptaan
lebih dari satu alam atau alam jamak. Di dalam
surat Al Fatihah ayat ke-2 disebutkan kata "al-
aalamin" .yang merupakan bentuk jamak dari kata
Bahasa Arab "alam". Para teolog umumnya
menyebutkan alam secara umum sebagai sesuatu
selain Allah. Jadi berarti jamak. Sedangkan alam
menurut para filosof adalah kumpulan jauhar yang
tersusun dari materi dan bentuk yang ada di bumi
dan di langit
[84]
. Jadi alam fisik. Dalam pengertian
sains modern, berarti para filosof memaknai alam
sebagai segala sesuatu yang berada di dalam
kontinuum ruang-waktu fisikal.

Uraian lengkap mengenai makna kata al-aalamin
berikut ini dikutip tafsir Al Mishbah jilid ke-1 karya
M. Quraish Shihab hal 30 :

"Kata Aalamin adalah bentuk jamak dari kata alam. Ia
terambil dari akar kata yang sama dengan ilmu atau
alamat (tanda). Setiap jenis makhluk yang memiliki ciri
yang berbeda dengan selainnya, maka ciri tersebut menjadi
alamat/tanda baginya, atau dia menjadi sarana/alat
sebagai sarana untuk pengetahuan tentang wujud Sang
Pencipta. Dari sini kata tersebut biasa dipahami dalam
arti alam raya atau segala sesuatu selain Allah."

Dalam memodelkan relasi antara Allah, alam
semesta, dan manusia secara integralistis yang
sudah saya uraikan sebelumnya, maka kalimat
"alam fisik dan non fisik" yang saya maksud adalah
yang sesuai dengan makna kata bahasa Arab "al-
aalamin" yaitu bentuk jamak dari kata "alam" (bahasa
Arab) . Dengan kata lain, alam itu lebih dari satu
baik yang fisik maupun non fisik.


2.1 Alam Semesta Jamak : Tatanan 7 Langit-
Bumi

Sains modern, dalam melakukan pengkajian alam
semesta lebih cenderung menggunakannya dalam
pengertian fisik atau di dalam kontinuum ruang-
waktu. Jadi pengertian alam semesta secara sains
adalah alam yang dapat menjadi sarana bagi
makhluk berakal dengan melalui tanda-tanda atau
fenomenanya yang tertangkap semua jenis indera-
indera alamiahnya maupun peralatan buatannya
untuk mengenal Allah. Oleh karena itu dalam kajian
sebelumnya saya katakan bahwa saya lebih setuju
kalau kontinuum ruang-waktu fisikal dipahami
secara menyeluruh sebagai kontinuum kesadaran
diri-ruang-waktu (pikiran-ruang-waktu). Dengan
kata lain, ada aspek-aspek psikologis dan metafisis
selain aspek fisis karena adanya peran manusia
dalam memahami alam semesta sebenarnya
cenderung psikologis bukan mekanis. Apalagi
dalam perspektif penciptaan dimana manusia
sejatinya menjadi rujukan utama bagi semua
penciptaan makhluk lainnya.

Menurut analisis Sirajuddin Zar
[84]
, al-aalamin di
dalam Al Qur'an sendiri tercantum di dalam
beberapa ayat dan mempunyai makna yang
bermacam-macam tergantung dari konteks ayat
tersebut. Misalnya al-aalamin di dalam QS 2:47 dan
QS 2:122 dapat dimaknai sebagai umat manusia
atau pada QS 3:96 dimaknai sebagai manusia.
Sedangkan pada QS 12:104, 38:87, 68:52, 81:27
istilah zikr li al-aalamin dapat diartikan sebagai
bangsa manusia dan jin. Jadi, pengertian al-aalamin
tidak dapat digunakan sebagai alam semesta atau
dalam bahasa Inggris universe . Namun, kata ini
dapat dibenarkan bila dimaksudkan untuk
menunjukkan banyaknya alam yang dipelihara
Tuhan dimana sebagian darinya tidak diketahui oleh

Sejarah Alam Semesta & Kontinuum Kesadaran- Ruang-Waktu

ini bersifat murni teoritis yang dapat dihitung secara
matematis saja sendiri.

Saat ini kita mungkin sering melihat bagaimana
industri hiburan Hollywood menafsirkan alam-alam
lain tersebut dengan membuat film fiksi ilmiah yang
menarik, menggelitik, dan kadang-kadang
menggelikan seperti dalam film serial TV "Twilight
Zone", "Back To The Future", atau film "Contact"
yang dibintangi oleh Jodie Foster. Meskipun
demikian, tafsiran kalangan industri perfilman itu
janganlah dianggap remeh, karena secara tidak
langsung kita dapat belajar bagaimana konteks sains
modern tanpa pemahaman spiritual dan keagamaan
dalam menyikapi adanya alam yang gaib tersebut.
Biasanya, ujung dari penyingkapan alam gaib
tersebut dijawab pula dengan cara mekanistis yang
juga kering dari unsur-unsur spiritual yaitu dengan
membuat mesin antar dimensi seperti yang
diperlihatkan dalam film "Contact" untuk berjalan
keluar menjelajahi alam semesta fisik atau dengan
model sihir-sihiran seperti dalam film-film Harry
Potter.

Sejarah Alam Semesta & Kontinuum Kesadaran- Ruang-Waktu

menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi
kesabaran.(QS 103:1-3)

Mengaitkan masa atau waktu sebagai suatu
"kerugian" dan "amal saleh.." untuk "menetapi
kesabaran" sebenarnya merujuk pada aspek
"kesadaran diri manusia" yang tentunya tidak bisa
dipisahkan dengan waktu. Secara logis, setiap bilah
waktu kita yang lewat adalah peluang kita untuk
"hidup dan mati" dan menunaikan suatu amanat dari
Tuhan. Jadi ketika kita melepaskan kesadaran diri
kita dari pentingnya waktu, maka kerugianlah yang
akan kita temui karena waktu tidak bisa dapat balik
kembali.

Dalam ayat yang lain yaitu QS 15:71 Allah juga
berfirman dengan menyinggung masalah waktu
yang dikaitkan dengan kesadaran seseorang,

(Allah berfirman): "Demi umurmu (Muhammad),
sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam
kemabukan (kesesatan)". (QS 15:71)

Demikian juga, dengan gaya bahasa yang lebih
psikologis, kaitan alam semesta dan kesadaran
manusia juga ditegaskan dalam firman QS (17:60),

Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan
kepadamu: "Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu
meliputi segala manusia". Dan Kami tidak
menjadikan "mimpi" yang telah Kami perlihatkan
kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia
dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk
dalam Al Qur'an. Dan Kami menakut-nakuti
mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah
menambah besar kedurhakaan mereka.(QS
17:60)

Frase "tidak menjadikan 'mimpi' yang telah Kami
perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi
manusia" menegaskan aspek psikologis penglihatan,
cerapan inderawi, akal pikiran dan qolbu kita kita
ketika memahami alam semesta atau dunia yang
sebenarnya seperti sebuah mimpi. Dengan
demikian, dalam memahami alam semesta, dunia
atau kehidupan faktor kesadaran sangat penting
untuk meemhami semua itu dengan utuh. Bukan
sepenggal-sepenggal.

Berbeda dengan konsepsi alam semesta sebagai
kontinuum ruang-waktu, maka konsep alam
semesta sebagai kontinuum kesadaran-ruang-waktu
menempatkan manusia dalam posisi yang lebih
dominan di alam semesta yang akhirnya akan
menyingkap bahwa alam semesta sebenarnya
diciptakan dengan mengikuti aturan atau ketentuan
yang sudah ditetapkan kepada manusia sebagai
suatu kadar dari Penciptanya. Kita adalah burung,
dan alam semesta adalah kandangnya. Maka yang
menciptakan, memelihara dan mendidik kita
sebagai Rabb Al-Aalamin mestinya menentukan
ukuran dan ketentuan manusia dahulu sebelum
kandangnya dibuat. Sehingga, alam semesta yang
kita diami dan dianggap oleh kita sangat luas
sebenarnya diciptakan berdasarkan spesifikasi kita
sebagai manusia yang menjadi citra kesempurnaan
Allah sebagai Rabb Al-Aalamin. Allah tidak
menciptakan alam semesta untuk emnunjukkan
citra kesempurnaan-Nya, namun kepada
manusialah Dia mengamanatkan citra
kesempurnaan-Nya itu. Artinya, kita lah yang
menentukan bentuk alam semesta ini sehingga
seprrti apa yang kita lihat dan kita rasakan saat ini.
Ketika manusia tidak menyadari hal ini, dan
mengira bahwa kebetulan manusia ada di alam
semesta, maka kitapun akan tertipu suatu tipu daya
fundamental dan sangat psikologis yaitu tipuan
Sang Iblis ketika menginginkan keabadian dirinya.

Pengertian alam semesta menurut Al Qur'an
sebagai al-Aalamin pada akhirnya mengungkap
adanya kejamakan alam semesta dalam pengertian
inderawi dan non inderawi. Kendati demikian,
semua alam tersebut secara teoritis adalah alam
yang berada dalam suatu kontinuum yaitu di dalam
kontinuum kesadaran-ruang-waktu. Hanya saja, ada
kesadaran-ruang-waktu yang terpahami secara utuh
oleh manusia dalam orde batasan-batasan waktu
teoritis yaitu diatas waktu Planck yang nilainya lebih
dari 10-34
detik1
, dan ada alam yang tidak
terinderawi oleh manusia yang bersifat gaib namun
dapat disadari ada (dalam arti kesadaran diri sudah
lepas dari keterikatannya dengan ruang-waktu).
Menurut telaah almarhum Prof. Achmad Baiquni
[29]
, seorang fisikawan Indonesia yang menekuni Al
Qur'an dari sudut pandang sains modern, para
saintis dalam menyikapi keberadaan alam-alam lain
tersebut telah berusaha membuktikannya, baik
secara teoritis maupun matematis. Seringkali
mereka menyebutnya sebagai "shadow worlds",
"parallel worlds" atau alam gaib menurut istilah Islam,
dan diperkirakan memiliki hukum-hukumnya

1
Dalam pengertian sehari-hari manusia menyadari
perbedaan waktu dalam order satu detik, jadi kajian teoritis

Sejarah Alam Semesta & Kontinuum Kesadaran- Ruang-Waktu

Apa atau rangkaian kalimat seperti apa yang cocok
dan identik dengan pengertian "alam semesta" atau
"universe" didalam Al Qur'an?

Menurut Sirajuddin Zar, Al Qur'an menggunakan
istilah "as-samaawaat wa al-ardh wa maa baynahumaa"
untuk alam semesta. Istilah ini ditemui didalam
beberapa surat Al Qur'an seperti dalam surat Al-
Maidah dan Shaad tiga kali; al-Dukhan dua kali;
surat al-Hijr, Maryam, Thaahaa, al-Furqan, al-
Syu'ara, al-Rum, al-Sajdah, al-Shaffat, al-Zukhruf,
al-Ahqaf, Qaf dan al-Naba masing-masing satu kali.
Menurut buku "Kamus Islam Menurut Quran &
Hadis" karya Hussein Bahreisy yang dikutip
Sirajuddin Zar, istilah ini secara harfiah berarti
"alam semesta adalah langit dan bumi dan segala isinya".

Surat al-Maidah ayat 17 (QS 5:17), yang berbunyi
"...Dan kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi dan
apa yang ada di antara keduanya..." merupakan
penegasan Allah bahwa Al-Masih (Nabi Isa a.s.)
merupakan makhluk dan bagian dari alam semesta
(as-samaawaat wa al-ardh wa maa baynahumaa) dan
seluruhnya adalah milik Allah. Ia berkuasa mutlak
atas seluruh jagat raya, dan apa yang ada didalamnya
tunduk kepada segala ketentuan-Nya. Kalau
menyimak konteks ayat tersebut maka "as-
samaawaat wa al-ardh wa maa baynahumaa" identik
dengan alam semesta, jagat raya, atau dalam Bahasa
Inggris disebut universe.

Demikian juga kalimat "as-samaawaat wa al-ardh wa
maa baynahumaa" di dalam surat Maryam ayat 65
(QS 19:65) yang berbunyi :

Tuhan langit dan bumi serta apa-apa diantara keduanya
(alam semesta), sebab itu sembahlah Dia dan teguhlah
untuk menyembah-Nya...

Untuk memahami pengertian ayat tersebut, perlu
dilihat secara utuh berdasarkan konteks ayat
sebelumnya yaitu QS 19:64 yang berbunyi:

Kepunyaan Allah apa-apa yang dihadapan kita, apa-apa
yang ada dibelakang kita dan apa-apa yang ada diantara
keduanya, dan tidaklah Tuhanmu lupa.

Kalimat "as-samaawaat wa al-ardh wa maa
baynahumaa" dalam surat Maryam ayat 65
memperkuat ayat sebelumnya yang bersifat parsial,
yaitu apa-apa yang ada di hadapan kita, apa-apa
yang ada di belakang kita, dan apa-apa yang ada
diantara keduanya. Namun, kalau kita teropong dari
pandangan sains modern, ayat diatas
mendefinisikan konsep ruang-waktu yang terdiri
dari masa lalu, masa kini, dan masa depan, suatu
konsep kosmologis yang oleh Stephen Hawking,
seorang fisikawan teoritis dari Inggris, diuraikan
untuk menjelaskan terjadinya alam semesta atau
secara umum dewasa ini digunakan untuk
menggambarkan berbagai fenomena alam
[20,21]
.

Dari uraian ayat-ayat diatas, maka Al Qur'an
menegaskan bahwa "as-samaawaat wa al-ardh wa maa
baynahumaa" identik dengan pengertian alam
semesta sebagai kontinuum ruang-waktu. Kata ini
mengacu kepada alam fisik dan non fisik atau alam
gaib seperti alam malaikat, alam jin, alam ruh, alam
barzakh, alam akhirat dan alam-alam lainnya yang
tidak dapat diindera oleh manusia umumnya.
Demikian kesimpulan akhir Sirajuddin Zar dalam
mengartikan "alam semesta".

Dengan pendekatan yang dipaparkan Sirajudin Zar
dan pengertian sains modern, maka sebenarnya
alam semesta yang dimaksudkan dalam Al Qur'an adalah
suatu kontinuum ruang-waktu yang terpahami oleh
makhluk berakal pikiran yakni manusia. Sehingga
pengertian alam semesta adalah suatu kontinum pikiran-
ruang-waktu atau seperti disebutkan sebelumnya sebagai
suatu kontinuum kesadaran diri-ruang-waktu (KDRW).
Inilah alam semesta menurut Al Qur'an dalam
pengertian yang lebih fisikal maupun metafisikal,
dan inilah konsep alam semesta yang saya gunakan
selanjutnya dalam risalah ini, jadi bukan sekedar
kontinuum ruang-waktu seperti dipahami selama ini
oleh para ilmuwan tradisional.

Pentingnya kesadaran atas waktu sebagai bagian
dari pemahaman kita tentang alam semesta
sebenarnya tersirat dalam surat Al Ashr (Masa, QS
103:1-3) .

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada
dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya